Rusaknya Ulama Su’, Hancurnya Kepercayaan Umat Menjaga Kemurnian Ilmu dan Dakwah di Tengah Krisis Keteladanan

Ulama merupakan pewaris para nabi. Melalui merekalah ilmu agama disampaikan, akidah dijaga, syariat diajarkan, dan umat dibimbing menuju jalan Allah. Oleh karena itu, kedudukan ulama dalam Islam sangatlah mulia. Namun, ketika sebagian orang yang menyandang gelar ulama atau tokoh agama justru terjerumus dalam penyimpangan moral, mengejar dunia, menyalahgunakan kedudukan, atau bahkan melakukan kejahatan terhadap umat, maka kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya menimpa dirinya, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap agama.Fenomena ini menjadi salah satu fitnah terbesar di akhir zaman. Banyak orang awam yang akhirnya meragukan dakwah, menjauh dari majelis ilmu, bahkan kehilangan kepercayaan kepada para ustadz dan kiai akibat ulah segelintir orang yang mengkhianati amanah ilmu.
Rasulullah وسلم عليه الله صلى bersabda :
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi ( HR. Abu Dawud )
Banyak orang mengira bahwa ukuran keulamaan seseorang hanya dilihat dari banyaknya hafalan, luasnya wawasan, kemampuannya menjelaskan tafsir Al-Qur’an, menguasai ilmu hadits, fiqih, ushul fiqih, bahasa Arab, atau disiplin ilmu syariat lainnya. Padahal, dalam pandangan Islam, keulamaan yang sejati tidak hanya diukur dari keluasan ilmu, tetapi juga dari kedalaman ketakwaan, kemuliaan akhlak, dan kesesuaian antara ilmu yang diajarkan dengan amal yang dilakukan, bahkan Seseorang mungkin mampu menjelaskan berbagai cabang ilmu agama, mengutip puluhan dalil, menjawab berbagai persoalan fiqih, bahkan menjadi rujukan masyarakat dalam masalah agama. Namun apabila ilmunya tidak melahirkan rasa takut kepada Allah, tidak mendorongnya untuk menjaga kehormatan diri, tidak membentuk akhlak yang mulia, dan tidak menjadikannya pribadi yang amanah, maka ilmu tersebut belum memberikan pengaruh yang semestinya dalam kehidupannya.
Allah ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. ( QS. Fatir : 28 )
Ayat yang mulia ini memberikan gambaran yang sangat jelas tentang hakikat ulama. Allah tidak mengatakan bahwa ulama adalah orang yang paling banyak hafalannya, paling tinggi gelarnya, atau paling luas pengetahuannya semata, tetapi Allah menyebutkan bahwa ciri utama ulama adalah rasa takut kepada-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu yang benar akan melahirkan ketakwaan, sedangkan ilmu yang tidak melahirkan ketakwaan patut dipertanyakan keberkahannya. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa semakin seseorang mengenal Allah melalui ilmu yang dimilikinya, maka semakin besar pula rasa takut, pengagungan, dan kecintaannya kepada Allah. Oleh karena itu, ilmu yang sejati adalah ilmu yang mampu mengantarkan pemiliknya kepada ketaatan, bukan kepada kemaksiatan; kepada kerendahan hati, bukan kepada kesombongan; serta kepada kemuliaan akhlak, bukan kepada kerusakan moral.
Dikutip dalam kitab tafsir Al Baghawi Ibnu Abbas menjelaskan bahwa rasa takut yang sempurna lahir dari ma’rifatullah ( mengenal Allah ) melalui pengetahuan tentang keagungan, kekuasan, dan kemulian-nya. Oleh sebab itu, semakin dalam ilmu seorang tentang Allah, semakin pula rasa takut, sebab Rasulullah وسلم عليه الله صلى manusia yang paling berilmu tentang Allah juga merupakan manusia yang paling besar rasa takutnya kepada Allah.
Ketika seorang tokoh agama, ustadz, dai, kiai, atau orang yang dianggap sebagai panutan umat terjerumus dalam penyimpangan moral, penyalahgunaan amanah, atau perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam, maka dampaknya tidak hanya menimpa dirinya sendiri. Kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih luas daripada dosa yang dilakukan oleh orang biasa. Sebab, seorang tokoh agama bukan hanya bertanggung jawab atas dirinya, tetapi juga memikul amanah sebagai pembimbing dan teladan bagi masyarakat. Oleh karena itu, ketika seorang tokoh agama rusak, maka kerusakan yang ditimbulkannya dapat menjalar kepada individu, keluarga, masyarakat, bahkan citra Islam itu sendiri.
Dampak pertama adalah hilangnya kepercayaan umat terhadap para ulama dan lembaga keagamaan. Tidak sedikit masyarakat yang akhirnya merasa kecewa dan kehilangan rasa hormat terhadap tokoh agama setelah mengetahui adanya penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian oknum. Bahkan, sebagian orang yang minim ilmu agama sering kali melakukan generalisasi dengan menganggap bahwa semua ustaz, kiai, atau ulama memiliki sifat yang sama. Padahal kesalahan individu tidak boleh dijadikan alasan untuk menuduh seluruh ulama. Namun kenyataannya, kerusakan seorang tokoh agama sering kali menyebabkan runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap dakwah dan lembaga-lembaga Islam.
Dampak kedua adalah munculnya fitnah terhadap agama Islam. Musuh-musuh Islam dan orang-orang yang membenci syariat sering menjadikan kesalahan oknum tokoh agama sebagai alat untuk menyerang Islam. Mereka tidak membedakan antara ajaran Islam yang sempurna dengan perilaku sebagian manusia yang menyimpang. Akibatnya, agama yang suci menjadi sasaran tuduhan dan celaan hanya karena perilaku segelintir orang yang mengkhianati amanah ilmu. Padahal Islam sama sekali tidak mengajarkan penyimpangan tersebut, bahkan mengharamkannya dan mengancam pelakunya dengan hukuman yang berat.
Dampak ketiga adalah menjauhkan manusia dari majelis ilmu dan dakwah. Banyak orang awam yang semula bersemangat menghadiri kajian, belajar agama, dan mendekat kepada para ustadz, kemudian menjadi ragu dan enggan untuk belajar karena trauma terhadap kasus- kasus yang terjadi. Bahkan ada yang berkata, “Kalau ustaznya saja seperti itu, untuk apa saya belajar agama?” Kalimat seperti ini menunjukkan betapa besar kerusakan yang ditimbulkan ketika tokoh agama kehilangan integritasnya. Padahal kesalahan seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan kebenaran yang dibawanya.
Dampak keempat adalah rusaknya generasi muda dan hilangnya figur teladan. Pemuda dan pemudi Islam membutuhkan sosok yang dapat mereka jadikan contoh dalam beragama. Ketika tokoh yang selama ini mereka hormati ternyata terlibat dalam berbagai penyimpangan, maka kekecewaan yang muncul bisa sangat mendalam. Tidak sedikit generasi muda yang akhirnya kehilangan semangat untuk mendalami agama karena merasa dikhianati oleh orang yang selama ini mereka percaya. Padahal dalam proses pendidikan Islam, keteladanan memiliki peranan yang sangat penting.
Dampak kelima adalah tersebarnya syubhat dan keraguan dalam hati masyarakat. Sebagian orang mulai mempertanyakan ajaran agama hanya karena melihat perilaku buruk dari sebagian tokoh agama. Mereka gagal membedakan antara agama yang sempurna dengan manusia yang bisa berbuat salah. Akibatnya, muncul berbagai keraguan terhadap syariat, terhadap ulama, bahkan terhadap kewajiban-kewajiban agama yang sebenarnya berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Inilah salah satu bahaya terbesar yang ditimbulkan oleh rusaknya tokoh agama.
Dampak keenam adalah terhambatnya dakwah Islam. Seorang dai yang terjerumus dalam penyimpangan bukan hanya merusak dirinya sendiri, tetapi juga dapat meruntuhkan hasil dakwah yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Kepercayaan masyarakat yang hilang tidak mudah untuk dikembalikan. Dakwah yang seharusnya diterima dengan baik menjadi ditolak karena masyarakat lebih fokus kepada perilaku pendakwah daripada kepada kebenaran yang dibawanya.
Penutup
Para ulama salaf mengatakan :
“Tergelincirnya seorang alim dapat menyebabkan tergelincirnya banyak manusia”
Ulama yang sejati bukan hanya mereka yang memiliki ilmu yang luas, tetapi juga mereka yang menghiasi ilmunya dengan ketakwaan, keikhlasan, dan akhlak yang mulia. Ilmu tanpa akhlak dapat menjadi sebab kesesatan, sedangkan ilmu yang disertai ketakwaan akan menjadi cahaya bagi pemiliknya dan bagi umat. Oleh karena itu, rusaknya sebagian tokoh agama hendaknya menjadi pelajaran bagi para penuntut ilmu untuk senantiasa menjaga amanah, memperbaiki diri, dan mengamalkan ilmu yang dimiliki. Adapun umat Islam, hendaknya tetap menghormati para ulama yang lurus serta tidak menjadikan kesalahan segelintir oknum sebagai alasan untuk menjauh dari agama. Semoga Allah menjaga para ulama dan pendakwah agar tetap istiqamah di atas kebenaran dan menjadi teladan yang baik bagi umat. Aamiin.
Penulis;
Penulis : Ust. Tino Destian – Wakit Ketua Bidang Pengembangan Studi Al Qur’an Dewan Da’wah Sidoarjo
